You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Sistem Informasi Desa Bulusari

Kec. Gempol, Kab. Pasuruan, Prov. Jawa Timur
Info

Sejarah Desa


Sejarah Desa

SEJARAH DESA BULUSARI

 

Sejarah Desa

Tentang riwayat desa Bulusari belum dapat dipastikan tentang kebenarannya, mengingat ini hanya merupakan cerita dari orang – orang tua secara turun temurun sehingga nanti dalam penyajian tentang sejarah desa Bulusari ini terdapat kejanggalan sudilah memaklumi .

Sejarah Pada Zaman Kerajaan

Adapun yang babat hutan didaerah ini adalah semuanya punggawa dari kerajaan majapahit dibawah pimpinan Ratu Kencana Wungu , karena daerah ini merupakan daerah perbatasan / garis depan antara kerajaan Blambangan dengan Majapahit yang dibatasi oleh sungai Bangkok tepatnya sungai ini mengalir dari Kepulungan sampai ke Karangrejo dalam wilayah Kecamatan Gempol . Beliau – beliau ini sedang mengikuti Patih Logender dimana beliau-beliau ini sedang menjaga Damarwulan yang sedang di penjara oleh Patih Logender di Kunjorowesi ( yang sekarang ini menjadi Desa Kunjorowesi Kabupaten Mojokerto ). Didalam Beliau membabat hutan ini tidak menjadi satu melainkan terpencar yang antara lain adalah :

  1.      Mbah Seco di daerah Bulu
  2.      Mbah Brojo di daerah Sukci
  3.      Mbah Seno di daerah Blimbing
  4.      Mbah Samuel di daerah Jurangpelen
  5.      Mbah Anggowicono di daerah Jembrung


Namun beliau-beliau sepakat apabila mendapat kesulitan agar berkumpul di bawah pohon Bulu . Dikarenakan pohon Bulu ini merupakan pohon Hasta , Jadi walaupun hutannya sangat lebat tetapi masih dapat terlihat dari jauh sehingga tidak sampai kehilangan arah .

 

Sejarah Pembangunan Desa

Dengan terbukanya hutan hasil babatannya mereka mendiami bersama istrinya masing-masing di daerahnya sampai beliau-beliau ini turun temurun hingga saat ini. Sebelum nenek moyang yang pertama kali membabat hutan ini meninggal dunia,mereka sempat berpesan kepada anak cucu yang isi pesannya adalah “Apabila kelak dikemudian hari daerah ini sudah ramai agar diberi nama sesuai dengan tanda-tanda pertama kali membabat hutan ini” yaitu :

1. Bendomungal

3. Jurang Pelen

5. Jembrung

7. Sukci

2. Jati Pentongan

4. Sumber Pandan

6. Blimbing

8. Bulu

Yang mana beliu-beliau ini sampai sekarang saja di hormati oleh penduduk yang ditinggalkan dengan cara mengadakan RUWAH DUSUN setiap tahunnya ditempat beliau-beliu ini dimakamkan . Sedangkan anak cucu yang ditinggalkan semakin bertambah banyak , tepatnnya pada jaman penjajahan belanda telah ditetapkan setiap kelompok ini harus ada yang menjadi pemimpin / atau Kepala desa , dan terjadilah pembagian wilayah ini yang di pimpin oleh beberapa kepala desa antar lain :

  1. Bendomungal yang mejadi Kepala Desa adalah Pak. Tamun
  2. Jatipentongan yang menjadi Kepala Desa adalah Pak. Jatiredjo
  3. Jurangpelen yang menjaddi Kepala Desa adalah  Pak. Samu
  4. Sumberpandan yang menjadi Kepala Desa adalah Pak. Ponirah
  5. Jembrung yang menjadi Kepala Desa adalah Pak. Dono
  6. Blimbing yang menjadsi Kepala Desa adalah Pak. Dasuki
  7. Sukci yang menjadi Kepala Desa adalah Pak. Sena
  8. Bulu yang menjadi Kepala Desa adalah Pak. Wongsoredjo

Mereka-mereka ini menjabat sejak tahun 1864 – 1899 , Setelah para Pemimpin pemimpin ini mengundurkan diri diganti pula jabatan Kepala Desa sesuai dengan perintah Government Belanda ditetapkan menjadi 5 Kepala Desa antar lain adalah :

  1. Jatipentongan yang menjadi Kepala Desa adalah Pak. Jatiredjo
  2. Jurangpelen yang menjadi Kepala Desa adalah Pak. Warisin
  3. Sumberpandan yang menjadi Kepala Desa adalah Pak. Dani
  4. Blimbing yang menjadi Kepala Desa adalah Pak. Jani
  5. Sukci yang menjadi Kepala Desa adalah Pak. Wongsoredjo.

Beliau-beliau ini menjabat tahun 1899 – 1923 , yang mana sebagai pusat pemerintahan Kecamatannya di Kepulungan ( yang sekarang menjadi desa Kepulungan ), Sedangkan Gempol adalah sebagai Kawedanan pada waktu itu. Dengan adanya pembaharuan lagi tentang wilayah yaitu pusat pemerintahan Kecamatan di Gempol sampai dengan sekarang  Sedangkan Kawedanan ikut Pandaan. secara ringkas yang menjadi Kepala Desa Bulu pada periode sampai saat ini adalah :

  1. Djojosudarso menjabat mulai tahun 1923 – 1932
  2. Deromoyudo menjabat mulai tahun 1932 – 1941
  3. K. Kerto Atmodjo menjabat mulai tahun 1941 – 1980
  4. Kardi ( Kades PJ ) menjabat mulai tahun 1980 – 1985
  5. Prapto ( Kades PJ ) menjabat mulai tahun 1985 – 1986
  6. Yasin ( Kades PJ ) menjabat mulai tahun 1986 – 1989
  7. H. M. Thohir menjabat mulai tahun 1989 – 2007
  8. Yudono menjabat mulai tahun 2007 – 2019
  9. Siti Nurhayati mulai tahun 2019 - Sekarang

Anak Cucu secara turun temurun yang ditinggal ini masih ingat akan cerita dari orang-orang tua mereka bahwa sebagai tanda kesepakatan mereka adalah pohon BULU yang sampai akhirnya dari beberapa Kepala Desa di ringkas menjadi satu Kepala Desa yang tepatnya di BULU juga, maka pada perubahan yang terakhir ini seluruh masyarakat sepakat untuk manamakan “ DESA  BULUSARI  “ yang artinya : 

BULU         : Pohon yang besar dan rimbun untuk berlindung         
SARI          : Aman dan Tentram ( dalam bahasa jawa Tentrem Ayem )

 

Dokumen Lampiran
Bagikan artikel ini:
Komentar